Penilaian Afektif

Standard

Taksonomi untuk daerah afektif mula-mula dikembangkan oleh David R. Krathwohl dan kawan-kawan dalam buku yang diberi judul Taxonomy of Educational Objectives: Affective Domain. Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, sikap, emosi, konsep diri, nilai serta moral. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Seperti, perhatiannya terhadap mata pelajaran, kedisiplinannya dalam mengikuti proses pembelajaran, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai materi pelajaran, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap pendidik dan sebagainya. Ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang.

Orang yang tidak memiliki minat pada mata pelajaran tertentu, sulit diharapkan akan mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap palajaran akan merasa senang mempelajari pelajaran tersebut, sehingga diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang memuaskan. Namun pada kenyataannya, walaupun pendidik sadar akan hal tersebut, belum banyak tindakan yang bisa dilakukan pendidik secara sistematik untuk meningkatkan minat peserta didik untuk belajar. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dalam merancang program pembelajaran dan pengalaman belajar peserta didik, pendidik haruslah memperhatikan karakteristik afektif dari peserta didik.

Peringkat ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl dan kawan-kawan ada lima jenjang, yaitu: 1) receiving 2) responding 3) valuing 4) organization 5) characterization
1. Receiving atau attending (menerima atau memperhatikan), adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan lain-lain. Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar. Receiving atau attending juga sering diberi pengertian sebagai kemampuan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Misalnya, peserta didik menyadari bahwa disiplin wajib ditegakkan, sifat malas dan tidak disiplin harus disingkirkan jauh-jauh.
2. Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya. Jenjang ini setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang receiving. Hasil pembelajaran pada peringkat menekankan pada perolehan respon, serta berkeinginan memberi respon.
3. Valuing (menilai = menghargai).
Menilai atau menghargai artinya memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding. Dalam kaitan dengan proses belajar mengajar, peserta didik tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk. Contoh, tumbuhnya kemauan yang kuat pada diri peserta didik untuk berlaku disiplin, baik di sekolah, di rumah mupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Hasil belajar afektif pada peringkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
4. Organization (mengatur atau mengorganisasikan),
Mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Peserta didik yang sudah sampai pada peringkat organization ini ditandai dengan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada peringkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai misalnya pengembangan filsafat hidup.
5. Characterization (karakterisasi)
Keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalam suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Ini merupakan tingkat afektif tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki filsafat hidup yang mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga membentuk karakteristik “pola hidup”, tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat diramalkan.
Karakteristik ranah afektif
Ada lima tipe karakteristik afektif yang penting yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral.
1) Sikap
Sikap merupakan prilaku seseorang untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep atau orang.
2) Minat
Minat merupakan kecenderungan afektif seseorang untuk membuat pilihan aktifitas. Seseorang yang berminat terhadap sesuatu, maka ia akan melakukan langkah-langkah nyata untuk mengetahui dan mempelajari objek yang diinginkan itu.
3) Konsep diri
Konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu yang bersangkutan terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimilikinya. Konsep diri ini penting untuk peserta didik dalam menentukan jenjang karirnya.
4) Nilai
Nilai merupakan suatu keyakinan yang berkaitan dengan kriteria baik buruk, tepat atau tidak tepat dan sebagainya dari suatu perbuatan, tindakan atau perilaku yang dianggap baik atau jelek. Karakteristik nilai ini lebih stabil dibandingkan dengan sikap seseorang. Nilai merupakan kunci bagi lahirnya perilaku dan perbuatan seseorang.
5) Moral
Moral berkaitan dengan akhlak, tingkah laku susila, ciri-ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar dari suatu tindakan terhadap orang lain. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan dosa dan pahala.
Penilaian ranah afektif
Penilaian ranah afektif terhadap peserta didik dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner atau melalui observasi atau pengamatan. Metode observasi dilakukan berdasarkan asumsi bahwa karakteristik afektif dapat dilihat dari prilaku atau perbuatan yang ditampilkan, reaksi psikologis atau keduanya. Metode kuesioner atau metode laporan diri dilakukan dengan asumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri.
Ada sebelas langkah yang harus diikuti dalam mengembangkan instrumen penilaian afektif yaitu:
a. Menentukan spesifikasi instrumen. Ada lima macam instrumen penilaian afektif yaitu.
1) Instrumen sikap
2) Instrumen minat
3) Instrumen konsep diri
4) Instrumen nilai
5) Instrumen moral

Dalam menyusun spesifikasi instrumen, ada empat hal yang harus diperhatikan yaitu;
1) Tujuan pengukuran
2) Kisi-kisi instrumen
3) Bentuk dan format instrumen
4) Panjang instrument

b. Menulis instrument
c. Menentukan skala instrument
Secara garis besar skala instrument yang sering digunakan adalah skala Thurstone, skala Likert dan skala Beda Semantik. Langkah-langkah pengembangan skala Thurstone dan skala Likert adalah sebagai berikut.
1) Tentukan objek afektif yang akan dikembangkan skalanya.
2) Susun kisi-kisi instrumen skala sikap.
3) Tulis butir-butir pernyataan dengan memperhatikan kaidah berikut
a) Setiap pernyataan harus berisi hanya satu ide.
b) Pernyataan hendaknya ditulis dengan ringkas, jelas dan dengan bahasa yang sederhana. Jangan menggunakan kata atau istilah yang mungkin tidak dapat dimengerti oleh responden.
c) Jangan menulis pernyataan yang membicarakan mengenai kejadian yang telah lewat kecuali kalau objek sikapnya berkaitan dengan masa lalu.
d) Jangan menulis pernyataan yang berupa fakta atau dapat ditafsirkan sebagai fakta.
e) Jangan menulis pernyataan yang dapat menimbulkan lebih dari satu penafsiran.
f) Jangan menulis pernyataan yang tidak relevan dengan objek psikologisnya.
g) Jengan menulis pernyataan yang sangat besar kemungkinannya akan disetujui oleh hampir semua orang atau hampir tak seorangpun yang akan menyetujuinya.
h) Hindari sedapat mungkin menggunakan kata-kata tidak pernah, semuanya, selalu, tak seorangpun dan semacamnya karena sering menimbulkan penafsiran yang berbeda.
4) Antara pernyataan positif dan negatif hendaknya relatif seimbang.
5) Setiap pernyataan diikuti dengan skala sikap (Thrustone terdiri dari 7 atau 6 kategori dan Likert terdiri dari 5 atau 4 kategori).

Contoh skala Thrustone :
Minat terhadap pelajaran kimia
Pernyataan 7 6 5 4 3 2 1
1. Saya senang belajar kimia
2. Pelajaran kimia bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari
3. Saya berusaha hadir setiap pelajaran kimia
4. Saya berusaha memiliki buku pelajaran kimia
5. Dst.

Contoh skala Likert
Sikap terhadap pelajaran kimia
No. Pernyataan SS S N TS STS
1.
2.

3.

4.

5. Pelajaran kimia sulit.
Semua orang harus belajar kimia.
Pelajaran kimia menyenangkan.
Pelajaran kimia bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Kimia penting untuk semua peserta didik.

Keterangan:
SS = sangat setuju
S = setuju
N = netral
TS = tidak setuju
STS = sangat tidak setuju
Contoh skala beda semantic (semantic differential)
Pelajaran kimia
7 6 5 4 3 2 1
Menyenangkan
Sulit
Bermanfaat
Menantang Membosankan
Mudah
Sia-sia
Menjemukan

Langkah-langkah pengembangan skala beda semantic adalah sebagai berikut:
1) Tentukan objek yang akan dikembangkan skalanya
2) Pilih dan buat daftar dari konsep dan kata sifat yang relevan dengan objek penilaian afektif misalnya menarik, penting, menyenangkan dan sebagainya
3) Pilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala
4) Tentukan rentang skala pasangan bipolar dan penskorannya

d. Menentukan system penskoran
System penskoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran. Apabila digunakan skala Thrustone, maka skor tertinggi untuk tiap butir adalah 7 dan yang terkecil adalah 1. Demikian juga untuk skala beda semantik. Untuk skala Likert, skor tertinggi untuk tiap butir adalah 5 dan terendah adalah 1.
e. Menelaah instrumen
Pada tahap ini yang dilakukan adalah menelaah:
1) Apakah butir partanyaan atau pernyataan sesuai dengan indikator
2) Apakah bahasa yang digunakan sudah komunikatif dan menggunakan tata bahasa yang benar
3) Apakah butir parnyataan tidak bias
4) Apakah pedoman menjawab atau mengisi instrument jelas
5) Apakah jumlah butir pernyataan sudah tepat sehingga tidak menjemukan untuk menjawab atau mengisinya
f. Merakit instrument
Setelah dilakukan telaah dan dilakukan perbaikan dimana perlu, maka selanjutnya dilakukan perakitan instrument. Merakit instrument yaitu menentukan format tata letak instrument, urutan pernyataan atau pertanyaan. Urutan pernyataan atau pertanyaan dibuat sesuai dengan tingkat kemudahan dalam menjawabnya.
g. Melakukan uji coba
Sesudah dirakit, instrument diujicobakan kepada peserta didik yang karakteristiknya mewakili populasi yang ingin dinilai. Ukuran sampel yang diperlukan minimal 30 orang, bisa berasal dari satu sekolah atau lebih.
h. Menganalisis hasil uji coba
Analisis hasil uji coba instrument meliputi variasi jawaban tiap butir pernyataan atau pertanyaan. Instrument yang baik adalah apabila jawaban responden pada tiap butir pernyataan bervariasi atau tidak sama. Indikator lain yang harus diperhatikan adalah indeks keandalan atau koofisien reliabilitas. Besar indeks reliabilitas yang diharapkan adalah minimum 0,7. Jika indeks reliabilitas kecil dari 0,7 maka kesalahan pengukuran akan semakin besar.

i. Memperbaiki instrument
Berdasarkan hasil analisis uji coba dilakukan perbaikan terhadap butir-butir pernyataan atau pertanyaan yang tidak baik.
j. Melaksanakan pengukuran
Melaksanakan pengukuran dilakukan pada kondisi yang baik antara lain, kondisi peserta didik yang tidak dalam keadaan lelah. Kondisi tempat duduk juga diatur agar peserta didik tidak tertanggu satu sama lain.
k. Menafsirkan hasil pengukuran
Menafsirkan pengukuran disebut juga dengan penilaian. Untuk menafsirkan hasil pengukuran diperlukan suatu kriteria. Kriteria yang digunakan tergantung pada skala dan jumlah butir soal. Misalkan digunakan skala likert dengan 5 pilihan, yaitu sangat setuju (dengan skor 5), setuju (skor 4), netral (skor 3), tidak setuju (skor 2), sangat tidak setuju (skor 1). Untuk pernyataan negatif maka skor diberikan sebaliknya yaitu sangat setuju (skor 1), setuju (skor 2), netral (skor 3), tidak setuju (skor 4), sangat tidak setuju (skor 5). Hasil pengukuran dikategorikan atas 4 yaitu sangat tinggi/sangat baik, tinggi/baik, rendah/jelek dan sangat rendah/sangat jelek.
Contoh:
Misalkan kusioner sikap atau minat terdiri dari 20 butir pernyataan menggunakan skala Likert dengan 5 pilihan. Demikian skor tertinggi yang akan diperoleh peserta didik adalahh 20 x 5 = 100 dan skor paling rendah adalah 20 x 1 = 20. Sikap atau minat peserta didik dapat diketegorikan seperti pada table 11.2 berikut:

Table 11.2 kategori sikap atau minat
No. Skor yang diperoleh Kategori sikap atau minat
1. 80-100 Sangat tinggi/sangat baik
2. 60-79 Tinggi/baik
3. 40-59 Rendah/jelek
4. 20-39 Sangat rendah/sangat jelek

Keterangan :
1. Skor batas bawah kategori sangat tinggi/sangat baik adalah 80%
2. Skor batas bawah kategori tinggi/baik adalah 60%
3. Skor batas bawah kategori rendah/jelek adalah 40%
4. Skor batas bawah kategori sangat rendah/sangat jelek adalah 20%

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s